
SIAK SRI INDRAPURA – Suasana khidmat menyelimuti prosesi Wisuda Sarjana S1 Angkatan ke-19 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sulthan Syarif Hasyim (SUSHA) Siak Sri Indrapura Riau pada Kamis, 22 Januari 2026. Di antara ratusan wisudawan, sosok Abdul Malik Wisudawan tertua berusia 46 tahun menjadi sorotan utama. Bukan hanya karena usianya yang tak lagi muda, melainkan karena narasi perjuangan panjang yang ia pikul hingga berhasil memindahkan tali toga dari kiri ke kanan.
Sebuah Janji di Tengah Kehancuran Hati
Perjalanan akademik Abdul Malik bukanlah jalan setapak yang mulus. Keinginannya untuk menimba ilmu sudah menggebu sejak bangku Sekolah Dasar. Namun, garis takdir memaksanya berhenti tepat setelah lulus SLTP. Faktor ekonomi dan kondisi kesehatan sang ayah, Almarhum Abdul Karim, yang menderita penyakit paru-paru kronis, memaksa Malik muda mengubur mimpinya sementara waktu.
“Nak, sekolah tidak bisa lanjut ke SMA ya. Ekonomi kita sulit, dan Abahmu sedang sakit,” ucap ibundanya kala itu. Kalimat tersebut diakui Malik sempat membuat hatinya hancur berkeping-keping. Namun, di tengah kepedihan itu, sebuah sumpah terucap dari bibirnya, “Insyaallah Mak, kalau ada biaya nanti, saya akan melanjutkan sekolah sampai sarjana.”
Janji itulah yang ia jaga selama puluhan tahun sembari menjalani profesi sebagai seorang petani, hingga akhirnya di usia 42 tahun, ia memberanikan diri mendaftar sebagai mahasiswa.
Menjadi Kompas bagi Generasi Muda
Keputusan Malik untuk kembali ke bangku kuliah bukan semata-mata demi gelar. Ia membawa misi mulia bagi kampung halamannya. Ia merasa prihatin melihat banyak pemuda-pemudi desa yang enggan melanjutkan pendidikan tinggi setelah lulus SMA.
“Saya ingin memotivasi mereka. Jika saya yang sudah berusia senja saja bisa, mengapa mereka yang masih muda ragu?” ujarnya dengan nada mantap. Selain itu, ia ingin menjadi teladan nyata bagi anak-anaknya bahwa ilmu adalah investasi dunia akhirat yang harus dikejar meski harus melewati rintangan yang terjal.
Selama empat tahun menempuh studi, Malik merasakan transformasi batin yang signifikan. Menjadi mahasiswa menjadikannya pemimpin keluarga yang lebih bijak dan disiplin. Meski terpaut usia jauh dengan rekan sekelasnya, ia mengaku sangat terbantu oleh atmosfer akademik di STAI SUSHA yang inklusif. Dosen-dosen yang suportif dan teman-teman mahasiswa yang tidak pernah membeda-bedakan usia menjadi energi tambahan baginya untuk tetap bertahan hingga garis finis.
Pesan dari Podium Keberhasilan
Kini, di usia 46 tahun, janji yang pernah ia bisikkan kepada ibundanya puluhan tahun silam telah lunas terbayar. Di balik toga yang ia kenakan, tersimpan pesan mendalam bagi seluruh mahasiswa dan calon mahasiswa di luar sana.
“Kejarlah cita-citamu setinggi langit. Hilangkan rasa takut yang menghantui diri sendiri dan jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang didapatkan hari ini. Sesungguhnya ilmu Allah SWT itu sangat luas bagi mereka yang mau mencarinya,” pungkasnya penuh haru.
Kisah Abdul Malik adalah pengingat bahwa bangku pendidikan tidak pernah mengenal kata terlambat, dan profesi sebagai petani bukanlah penghalang untuk menyandang gelar sarjana. Di bawah langit Siak, sebuah inspirasi baru telah lahir.




